SEKILAS TENTANG BUNG KARNO

foto-presiden-soekarno-gambar-bung-karno-ir-soekarnoIr. Soekarno(17 Agustus 1945 -12 Maret 1967)

Nama: Ir. Soekarno
Nama Panggilan: Bung Karno
Nama Kecil: Kusno.
Lahir: Blitar, Jatim, 6 Juni 1901
Meninggal: Jakarta, 21 Juni 1970
Makam: Blitar, Jawa Timur
Gelar (Pahlawan): Proklamator
Jabatan: Presiden RI Pertama (1945-1966)

Pendidikan:

HIS di Surabaya (indekos di rumah **** Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam)
HBS (Hoogere Burger School) lulus tahun 1920
THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) di Bandung lulus 25 Mei 1926Ajaran: Marhaenisme
Kegiatan Politik: Mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927
Dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929
Bergabung memimpin Partindo (1931)
Dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Merumuskan Pancasila 1 Juni 1945
Bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945—–

SEKILAS TENTANG BUNG KARNO
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.
LAWATAN KE KUBA
Soekarno punya banyak sahabat di luar negeri. Salah satu yang paling dekat mungkin dengan para pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro dan Che Guevara.
Che Guevara lebih dulu berkunjung ke Indonesia tahun 1959. El Comandante ini berdiskusi panjang lebar soal revolusi di Indonesia. Pada waktu itu, Che juga merupakan wakil resmi pemerintah Kuba untuk membicarakan hubungan dagang antar kedua negara. Soekarno cocok dengan pribadi Che. Keduanya penuh energi dan bergaya informal.
Che sempat berwisata ke Candi Borobudur. Dia yang terkesan dengan Soekarno kemudian mengundang Soekarno untuk ganti berkunjung ke Kuba.
Maka tahun 1960, Soekarno yang melawat ke Kuba. Pemimpin Kuba Fidel Castro langsung menyambutnya di Bandara Havana. Soekarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan ‘Viva President Soekarno’.

Soekarno banyak berdiskusi dengan Castro soal apa yang telah dilakukannya di Indonesia. Di tengah kepulan cerutu kuba yang legendaris, Soekarno memaparkan konsepnya soal Marhaenisme. Soekarno menjelaskan kemandirian di bidang ekonomi. Bagaimana rakyat bisa menjadi tuan di negerinya sendiri tanpa didikte imperialisme.Fidel Castro yang juga anti-Amerika klop dengan Soekarno. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah mau didikte Amerika Serikat.

Foto-foto Soekarno, Che dan Castro menunjukkan hubungan yang sangat dekat. Soekarno menghadiahi Castro keris, senjata asli Indonesia. Mereka tertawa seperti dua sahabat saat bertukar penutup kepala. Soekarno menukar kopiahnya dengan topi a la komandan militer yang menjadi ciri khas Castro. Che pun tampak senang mengenakan kopiah Soekarno.

Saat itu revolusi baru saja terjadi di Kuba. Castro dan Che baru menumbangkan rezim Batista dan mengambil alih kepemimpinan Kuba tahun 1959. Karena itu euforia revolusi terjadi di semua pelosok Kuba.

Yang unik, rombongan kepresidenan sempat berhenti hanya karena petugas polisi yang memimpin konvoi ingin menghisap cerutu.

Cerita itu dituturkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Saat itu dalam konvoi Soekarno ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan. Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti.

Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Soekarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu. Setelah menyala, polisi itu lalu memberi hormat pada Soekarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja.

“Bung Karno tertawa berderai melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi,” ujar Bambang.

Lawatan ke Kuba sangat mengesankan untuk Soekarno. Sangat berbeda dengan lawatannya ke Washington beberapa waktu sebelumnya. Kala itu Soekarno tersinggung dengan Presiden Eisenhower yang sombong. Eisenhower menganggap remeh Soekarno yang dianggapnya datang dari negara dunia ketiga.

Dibiarkannya Soekarno menunggu di Gedung Putih hampir setengah jam lamanya. Amarah Soekarno pun meledak.

“Apakah kalian memang bermaksud menghina saya. Sekarang juga saya pergi,” ujar Soekarno dengan marah.

Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno. Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Dia sadar Soekarno tak bisa diremehkan.

YANG TIDAK PATUT DI TIRU

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal beristri banyak. Punya istri banyak dan cemburuan tentu membuat Soekarno pusing. Kadang Soekarno terpaksa main kucing-kucingan dengan para istrinya.

Ketika Soekarno menikah dengan Hartini, Fatmawati marah dan keluar dari Istana. Istri kedua Soekarno ini memilih tinggal di Kebayoran Baru. Hartini pun akhirnya tidak tinggal di Istana, tetapi di paviliun Istana Bogor. Lalu setelah menikah dengan Dewi Soekarno, wanita Jepang ini ditempatkan di Wisma Yasoo, Jl Gatot Subroto. Sementara istri lainnya, Haryati ‘ditaruh’ di kawasan Slipi, Jakarta Barat.

Banyak kisah lucu soal poligami Soekarno. Misalnya soal surat. Karena sibuk, Soekarno tidak sempat menulis surat untuk masing-masing istrinya. Maka dia menyuruh juru tulis Istana untuk mengetikkan surat cinta bagi istrinya.

Tapi betapa kagetnya Soekarno saat mendapati surat cinta itu diketik di atas kertas berkop kepresidenan resmi. Lengkap dengan logo burung garuda dan cap kepresidenan. Bukan itu saja, si pengirim bukan ditulis sebagai ‘mas’ atau ‘Soekarno’ tetapi Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Ir Soekarno.

Nah, akibat banyak istri ini para ajudan pun jadi punya tugas tambahan. Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan semua kerepotan ini.

Para istri Soekarno ini selalu curiga ke mana Soekarno pergi setelah jam dinas usai. Apakah menemui istrinya yang lain? ke rumah si A, si B atau si C? Para ajudan Soekarno pun harus berbohong demi menyelamatkan bos mereka.

“Kami para ajudannya harus membantu dan mengamankan setiap timbul persoalan. Kalau perlu harus berbohong, apabila ibu yang satu bertanya apakah Bung Karno bertemu dengan ibu yang lainnya,” kata Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Jika Soekarno bertanya “Apakah aku sudah rapi?” Maka ‘rapi’ itu artinya bersih dari bekas lipstik, dan wangi parfum salah satu istrinya. Ajudan pun harus ektra teliti memeriksa. Jika ada bekas parfum misalnya, maka Soekarno akan pulang dulu ke Istana Negara untuk mandi dan berganti pakaian.

Pernah suatu saat, Haryati, mendengar Soekarno sedang menemui istrinya yang lain. Dia pun marah dan hendak menyusul ke tempat acara. Soekarno yang mendapat laporan, memerintahkan bagaimana dan apapun caranya, Haryati tak boleh meninggalkan Slipi.

Maka ‘operasi sabotase’ itu digelar. Awalnya sopir Haryati berpura-pura mobilnya mogok. Haryati yang murka meminta agar dikirim mobil dari Istana. Tapi berjam-jam mobil itu tidak juga datang. Saat sopir sudah berhasil menyalakan mobil yang tadi mogok, sebuah truk tiba-tiba mogok di depan rumahnya. Mobil Haryati pun tidak bisa keluar dari garasi. Misi sabotase ini sukses.

Repot memang punya banyak istri, apalagi yang sifatnya pencemburu. Sebaiknya jangan ditiru ya…cukup satu dan selalu jaga hatinya baik2…

( sumber beritanya dari merdeka.com )

SEKILAS ISTRI ISTRI BUNG KARNO

1.SITI OETARI (1921-1923)
Merupakan putri sulung Hadji Oemar Said Tjokroaminoto tokoh Sarekat Islam sekaligus merupakan istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Soekarno menikahi Oetari usianya berumur 16 tahun. Soekarno menikahi Oetari pada tahun 1921 di Surabaya. Sewaktu itu Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Soekarno kemudian menceraikan Oetari.

2.INGGIT GARNASIH (1923-1943)
Sudah lama jalan Ciateul berganti nama menjadi jalan Ibu Inggit Garnasih. Siapakah dia? Berikut satu artikel yang saya temukan.
Bung Karno dan H. Agus Salim, mereka berpolemik panjang lebar soal poligami. Bung Karno tidak setuju karena dianggapnya poligami adalah perendahan harkat dan martabat kaum perempuan sebaliknya Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu, Bung Karno istrinya banyak sementara Agus Salim tetap beristri satu.

Akhirnya segala sesuatu dikembalikan pada niatnya, yang luar biasa adalah istri Bung Karno, Ibu Inggit. Apabila Bung Karno api maka Inggit kayu bakarnya. Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan, Inggit menghibur ketika Soekarno kesepian. Inggit menjahitkan ketika kancing baju Soekarno lepas, Inggit hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai Ibu maupun teman. Inggit bagi Soekarno laksana Khadijah bagi Muhammad. Bedanya Muhammad setia hingga Khadijah meninggal sedangkan Soekarno kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi.

Dalam kamus hidupnya hanya ada kata memberi tak ada kata meminta. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno seperti singa yang mengaum dari satu podium ke podium berikutnya, pikirannya tercurah untuk pergerakan, Inggit yang setia mencari uang. Inggit mencinta karena cinta, tanpa pamrih tanpa motivasi. Suatu malam di jalan Jaksa, kedua pasang mata bertemu, Soekarno berkata “Aku cinta padamu”. Inggit tersipu menunduk dalam-dalam sambil mempermainkan ujung kebaya. Itulah cinta yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata, tanpa bahasa. Kejadian yang sangat lazim dan sederhana tetapi merupakan kejadian penting yang terlupakan oleh segenap bangsa.

Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani, merupakan batere bagi kehidupan Soekarno yang menderita. Tetapi di ujung masa penjajahan Soekarno berkata pada Inggit, “Euis, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.”
“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.
“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Jadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”
“Tidak, antarkan saja aku ke Bandung.” jawab Inggit lagi.

Akhirnya Soekarno mengantar Inggit ke Bandung. Kembali tinggal di jalan Tjiateul dan Soekarno balik ke Jakarta. Dalam kesepiannya Inggit selalu berdoa bagi kebaikan Soekarno. Inggit kembali menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang sebagai nafkah.
Dagangannya dititipkan di toko Delima. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi.

Siang itu aku lewat di Jl. Ciateul yang sibuk dan panas, yang sekarang dinamakan Jl Inggit Garnasih. Tampak sebuah rumah lama dicat baru, katanya disitu dulu Inggit tinggal dan akan dijadikan museum. Aku tengok isinya … kosong melompong. Tak ada yang ditinggalkan oleh Inggit selain satu pelajaran tentang CINTA

.3.FATMAWATI (1943-1956)
Fatmawati (ada yang berkata nama aslina Fatimah. Red.) lahir pada tanggal 5 Pebruari 1923, dari suami-isteri Hassan Din dan Siti Chatidjah. Tidak memiliki rumah sendiri (dan selalu menyewa atau, menumpang), Hassan Din bukan orang berada. Kemelaratan ini lebih-lebih lagi melanda ketika Hassan Din harus keluar dari Borsumi dan aktif dalam gerakan Muhammadiyah di Bengkulu.

Pernah, ketika masih duduk di kelas II HIS Muhammadiyah, Fatmawati berjualan ketoprak seusai sekolah. “Inilah jalan yang aku tempuh untuk meringankan beban orangtuaku,” tulisnya. Usia 12 tahun, sudah bisa dilepas di warung beras ayahnya.

Ketika usianya 15 tahun, Fatmawati bertemu dengan Sukarno. Bahkan seluruh keluarga — ayah, ibu, Fatma dan adik ayahnya — naik delman mengunjungi rumah Sukarno di Curup. “Masih kuingat, aku mengenakan baju kurung warna merah hati dan tutup kepala voile kuning dibordir.” Pendapat Fatmawati tentang Inggit, yang waktu itu jadi isteri Bung Karno: “Inggit mempunyai pembawaan halus, pandai tersenyum dan gemar makan sirih. Berpakaian rapi, tak banyak reka-reka menurut model sebelum generasiku, memakai gelur bono Priangan. Pada penglihatanku, Ibu Inggit seorang yang tidak spontan, gerak-geriknya hati-hati. Bercakap pun demikian. Matanya kelihatan seakan-akan suka marah dan kesal. Jika orang tak kuat batin, rasanya susah berdekatan dengan beliau

Saat yang paling penting dalam kehidupannya, di saat-saat menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, demikian Fatmawati. Ibu Negara ini yang menggunting dan menjahit bendera pusaka yang kini disimpan. Di masa-masa pergolakan ada beberapa catatan penting tentang soal yang bisa saja dianggap remeh-remeh. Misalnya: Kunjungan beliau yang pertama ke luar negeri adalah ke India. Beliau ketika itu memakai perhiasan pinjaman dari isteri Sekretaris Negara, seorang keturunan bangsawan kraton yang kebetulan punya persediaan.

Tentang Yogya – dan Fatma berdiam di gedung yang kini namanya Gedung Negara — ia menulis: “Satu kali kami menjamu Merle Cochran dengan perabot dan pecah-belah pinjaman dari kiri-kanan dengan protokol `perjuangan`nya.” Artinya: protokol yang juga sibuk pinjam taplak meja di rumah lain kalau kebetulan ada tamu negara. Juga protokol yang, tanpa bisa dilihat oleh tamu negara, bersembunyi dan memberi tahukan kepada Bung Karno, kapan dia harus angkat gelas. Istana waktu itu memang bukan Istana yang sekarang.

Fatmawati meninggal pada tahun 1980 dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Ia adalah istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Dari pernikahananya dengan Soekarno ia dikaruniai 5 orang anak.

4.HARTINI (1952-1970)

Hartini Soekarno, Lahir di Ponorogo Jawa imur pada tanggal 20 September 1924 beragama Islam. Hartini menempuh pendidikan awal di HIS ( Holland Indlands School ) dan terakhir Kelas dua SMA yaitu pada tahun 1942. Wanita Karir di bidang Wiraswasta ini beralamat di Jalan Proklamasi No. 62 di Jakarta Pusat.

Enam belas tahun dalam suka maupun duka, Hartini setia mendampingi suaminya hingga wafat. Resmi menjadi istri Soekarno, setahun setelah pertemuannya yang pertama di Prambanan, Yogyakarta tahun 1952. Ketika itu ia sudah menjadi janda berusia 28 tahun. Dengan suaminya yang pertama, Suwondo, ia dikaruniai lima anak. Menikah dengan Soekarno, ia mendapat dua anak.

Biasa dipanggil Tien, ia anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya, Osan, pegawai kehutanan, mendidiknya secara tradisional. Tidak mengherankan bila Tien berpendidikan formal hanya hingga kelas dua SMA. Pendapatnya tentang istri cukup sederhana. Selain sebagai istri, kita juga adalah ibu, kawan, dan kekasih bagi suami.

Sebagai ibu, menurut Tien, bila suami sakit harus dilayani dengan cermat. Meminumkan obat, memijati, dan mengelusnya hingga terlena. Sebagai kawan, di mana dan kapan pun, patut mengimbangi pembicaraannya. Ia banyak membaca dan rajin mengumpulkan informasi, agar mampu menjadi kawan bicara yang baik dan bijak.

Awet muda dan tampak cantik dalam usia 60 tahun. Rahasia kecantikan Hartini, setiap bangun pagi ia segera minum segelas air putih dan olah raga ringan. Juga minum jamu ramuan sendiri berupa kunyit, daun asam, temu, asem kawak, daun beluntas, dan gula merah, yang direbusnya. Ia minum jamu dua kali sehari dan tidak makan yang amis, seperti ikan dan telur.

5. Kartini Manoppo (1959-1968)

Kartini Manoppo, bekas pramugari syarikat penerbangan Indonesia, Garuda. Sukarno jatuh cinta pada Kartini apabila melihat potret wajah wanita itu yang dilukis oleh Basuki Abdullah. Mereka bernikah pada tahun 1959 dan memperoleh anak pada tahun 1967. Anak itu diberi nama Totok Suryawan Manoppo.

6.Ratna Sari Dewi (1962-1970)
Ratna Sari Dewi yang berdarah Jepang bernama asli Naoko Nemoto, merupakan istri kelima dari mantan presiden Republik Indonesia yang pertama yaitu Ir. Soekarno, wanita kelahiran Tokyo, 6 Februari 1940. Yang dinikahi oleh Soekarno pada tahun 1962 itu terdaftar dengan nama lengkap Ratna Sari Dewi Soekarno yang beralamat di Shibuya-Ku, Kamiyama-Cho, 31-1, Tokyo.

Bagaimana pula dengan Naoko Nemoto? Dialah geisha yang begitu sempurna di mata Sukarno. Kecantikannya begitu mempesona, sehingga tak kuasa Sukarno meredam hasrat cintanya yang berkobar-kobar. Gadis Jepang ini lahir tahun 1940, sebagai anak perempuan ketiga seorang pekerja bangunan di Tokyo. Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai ia lulus sekolah lanjutan pertama pada tahun 1955.

Setahun kemudian, ia mengundurkan diri, dan menekuni profesi geisha Akasaka’s Copacabana yang megah, salah satu kelab malam favorit yang sering dikunjungi para tamu asing. Ke kelab inilah Sukarno datang pada 16 Juni 1959. Bertemu Naoko, dan jatuhlah hatinya. Setelah itu, Bung Karno masih bertemu Naoko dua kali di hotel Imperial, tempat Bung Karno menginap. Akan tetapi, versi lain menyebutkan, pertemuan keduanya terjadi setahun sebelumnya, di tempat yang sama.

Usai lawatan dua pekan, Bung Karno kembali ke Jakarta. Tapi sungguh, hatinya tertinggal di Tokyo… hatinya melekat pada gadis cantik pemilik sorot mata lembut menusuk, sungging senyum yang lekat membekas. Seperti biasa, Bung Karno mengekspresikan hatinya melalui surat-surat cinta. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Isyarat itu ia tangkap melalui surat balasan Naoko.

Tak lama, Bung Karno segera melayangkan undangan kepada Naoko untuk berkunjung ke Indonesia. Sukarno bahkan menemaninya dalam salah satu perjalanan wisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta makin subur bersemi di hati keduanya. Terlebih ketika Naoko menerima pinangan Bung Karno, dan mengganti namanya dengan nama pemberian Sukarno. Jadilah Naoko Nemoto menjadi Ratna Sari Dewi. Orang-orang kemudian menyebutnya Dewi Soekarno.

Tanggal pernikahan keduanya, ada dua versi. Satu sumber menyebut, keduanya menikah diam-diam pada tanggal 3 Maret 1962, bersamaan dengan peresmian penggunaan nama baru: Ratna Sari Dewi berikut hak kewarganegaraan Indonesia. Sumber lain menyebut mereka menikah secara resmi bulan Mei 1964. Agaknya, sumber pertamalah yang benar.

Lepas dari kapan Bung Karno menikahi Ratna Sari Dewi, akan tetapi, cinta Bung Karno kepadanya begitu meluap-luap. Jika ia bertestamen agar dimakamkan di sisi makam Hartini, maka terhadap Ratna Sari Dewi, Bung Karno bertestamen agar dimakamkan dalam satu liang.

Faktanya, Hartini dan Ratna Sari Dewi yang begitu terlibat secara emosional pada hari terakhir kehidupan Bung Karno. Hartini yang setia mendampingi di saat ajal menjemput. Hartini pun tahu, dalam keadaan setengah sadar di akhir-akhir hidupnya, Bung Karno membisikkan nama Ratna Sari Dewi. Hal itu diketahui pula oleh Rachmawati.

Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di akhir hayat, luluh hatinya. Tak ada lagi rasa “tak suka” kepada Hartini maupun Ratna Sari Dewi. Rachma sadar, ayahnya begitu mencintai Hartini dan Dewi, sama seperti besarnya cinta Bung Karno kepada Fatmawati, ibunya.

Buah asmara Bung Karno – Ratna Sari Dewi adalah seorang gadis cantik yang diberinya nama Kartika Sari Dewi atau akrab disapa Karina. Bung Karno sempat menimang bayi Kartika, meski jalan hidupnya tak memungkinkan untuk mendampinginya tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. (roso daras)

7.Haryati (1963-1966)

Haryati adalah seorang penari di Pejabat Setiausaha Negara. Mereka berkahwin pada tahun 1963 dan bercerai tiga tahun kemudian. Sukarno seterusnya berkahwin dengan Yurike Sanger pada tahun 1964, perkahwinan itu juga hanya bertahan tiga tahun.

8. Yurike Sanger ( 1964-1968)

Menjadi istri Bung Karno merupakan suratan nasib dan kehendak Tuhan. Begitulah Yurike mengawali kisahnya. Ia mengaku, hal itu sama sekali bukan kemauannya sejak awal, juga bukan jenis impian murid SMA yang pada waktu itu masih senang bermain karet gelang. Lagi pula, sejak awal mengenal Bung Karno, Yurike yang bukan siapa-siapa itu merasa sangat tidak pantas menerjemahkan isyarat yang ditampakkan Bung Karno sejak awal sebagai rasa cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perjalanan nasib pula yang membuat Yurike harus melupakan impiannya menjadi pramugari.
Berawal dari kedatangan seorang bintang film bernama Dahlia ke sekolahnya pada awal 1963. Rupanya, sang bintang film itu sudah lama mengamati dan mengincar Yurike untuk dijadikan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kelompok remaja berjumlah 50 pasang yang tampil mengenakan pakaian adat Indonesia pada acara-acara kepresidenan.
ket gambar diambil dari buku :
Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA:
Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger
Babak baru dalam kehidupannya makin jelas terasa setelah benar-benar masuk dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika itu. Setelah mendapat bimbingan dan pengarahan secukupnya, ia pun resmi menjadi anggota. Pertama kali terjun dalam kelompok itu pada sebuah acara kepresidenan yang digelar di Istora (Istana Olahraga) Bung Karno. “Aku yang merupakan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika termuda tampil dengan kebaya Jawa,” tulis dia mengenang peristiwa itu.

Kejutan berikutnya berlangsung ketika pertama kali tampil itu. Yurike mengaku sangat canggung karena ini merupakan pengalaman baru. Keringat dingin terasa mengalir di tengkuknya pada saat Bung Karno justru berhenti tepat di hadapannya ketika melewati Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa diduga, sang presiden malah menyapa dan menyempatkan diri berdialog singkat dengannya.

“Bermimpikah aku? Bung Karno memperhatikanku lebih dari sekilas. Barangkali karena tahu aku pendatang baru dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, (Bung Karno) lalu bertanya, ‘Siapa namamu?’.” Yurike menjawab semua pertanyaan singkat presiden dengan perasaan campur aduk: bingung, malu, dan bangga. Apalagi, Bung Karno sempat terkecoh oleh posturnya yang bongsor, sehingga menyangka Yurike yang masih duduk di bangku SMP itu seorang mahasiswi.

Dalam perkenalan singkat itu juga, sebelum berlalu, Bung Karno mengatakan kepadanya sebaiknya tidak memakai nama dengan akhiran “ke” atau “ce”. “Pakai Yuri saja. Nama dengan embel-embel ‘ke’ atau ‘ce’ itu kebarat-baratan, tidak sesuai dengan kepribadian nasional kita.” Yurike pun hanya mengangguk mengiyakan.

Yurike tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya sejak tatapan pertama dengan Bung Karno itu. “Matanya yang jernih dan terang itu sepertinya hinggap ke pusat mataku dan sampai kapan pun tak bisa kulukiskan dengan jelas. Bicaranya mantap, wajahnya tampan, dan makin tampak gagah dengan jas cokelat tua yang dipenuhi atribut resmi di kedua pundak dan dada kirinya. Secara kebetulan pula, warna cokelat tua memang warna favoritku,” tulis dia.

Seiring dengan keterlibatannya yang makin intens dalam kegiatan Barisan Bhinneka Tunggal Ika, makin sering pula ia bertemu dengan Bung Karno. Yurike mengungkapkan beragam perhatian khusus yang diberikan Bung Besar itu kepada dirinya. Bermula dari sekadar menyuruh duduk di dekatnya ketika ada acara resmi di istana, juga dengan mengambilkan kue tradisional dari meja.

Untuk itu, Yurike menulis kenangannya. “Perhatian Presiden Soekarno kepadaku memang terasa agak khusus. Di antara puluhan gadis yang tergabung dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, menurut pengamatanku, jarang sekali yang menerima perlakuan demikian. Aku tidak pernah berpikir bahwa hal itu akan berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius.”

Diantar Pulang Bung Karno
Suatu ketika di Istana Bogor, setelah acara resmi usai, Yurike bersantai seperti biasa ia lakukan: mengobrol dengan para pengawal. Tiba-tiba Bung Karno berteriak-teriak memanggil namanya. Pada saat itu, Presiden Soekarno sedang menikmati makan malam satu meja dengan tamu-tamunya. Ia diminta duduk di sebuah kursi yang tampak sengaja dikosongkan persis di sebelah RI-1 itu.

Pada saat yang lain, ia didatangi kepala pool kendaraan istana yang menyampaikan perintah Bung Karno kepadanya. Yurike disuruh memakai salah satu mobil istana untuk antar-jemput setiap kali mengikuti agenda Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Yurike tampaknya ingat betul momen itu. “Tawaran menggunakan mobil istana tersebut disampaikan beberapa hari menjelang peristiwa fenomenal dalam dunia olahraga: Games of the New Emerging Forces (Ganefo) I yang upacara pembukaannya dilakukan pada 1 November 1963 di Stadion Utama Gelora Bung Karno,” tulis dia.

Malah peristiwa berikutnya pada masa itu makin di luar dugaan Yurike. Keistimewaan yang didapatkannya terus diikuti dengan keistimewaan lain yang lebih besar. Pada saat pembukaan Ganefo itu, petugas protokol meminta Yurike menjadi penjemput presiden ketika turun dari mobil kepresidenan. Ini jelas menyimpang dari kebiasaan acara protokoler yang umum disaksikannya pada masa itu.

Di lain pihak, peristiwa itu memberi bekas sangat dalam pada dirinya. “Dan, mata kami bertemu. Kurasa, hati kami juga bertemu. Kutangkap kemilau yang seolah menyimpan magnet tersebut. Sementara, tanpa sadar, aku melempar senyum lewat mataku. Biarpun hal itu cuma hadir selintasan, peristiwa yang amat menggetarkan itu lama sekali berlabuh teduh di lembah kenangan.”

Isyarat perhatian khusus dan mendalam Bung Karno kian kentara pada masa-masa selanjutnya. Sampai suatu ketika, di tengah acara ramah-tamah presiden dengan pengurus Front Nasional di Istana Merdeka, ajudan Bung Karno meminta dia tidak pulang dulu usai acara. “Soalnya, Bapak yang mau mengantarkan pulang,” katanya.

Percaya atau tidak percaya, ternyata begitulah adanya. Yurike duduk bersebelahan dengan Bung Karno di jok belakang sedan Lincoln itu. Perasaan kikuk menyelimuti dirinya selama perjalanan pulang. “Jok besar itu lebar sekali. Kurasa, untuk empat orang pun masih lega. Terbelenggu oleh sikap segan yang demikian besar, juga rasa malu yang sungguh tak teratasi, dudukku seolah menyatu dengan pintu.”

Penampilan Bung Karno pada saat mengantarkannya pulang malam hari sekitar pukul 11 itu pun tidak biasa. Bercelana biru tua, kemeja lengan pendek biru muda, bersandal kulit hitam, dan tanpa peci. “Kepala yang biasa berpeci itu agak mengubah sedikit raut wajahnya. Dahinya tampak lebar sekali dan seolah menyambung dengan bagian tengah kepalanya yang botak.”

Tanpa sungkan-sungkan pula, Yurike menuturkan bahwa penampilan yang lain dari biasanya itu sempat membuat ayah-ibunya terkecoh. Mereka menyangka, yang datang mengantar hanyalah kepala rumah tangga istana. Malah ayahnya sempat bersikap sinis dan agak kurang sopan ketika menyambut sang pengantar. Setelah tahu yang datang Bung Karno, suasana pun berubah sama sekali.

Bung Karno Menyatakan Cinta
Pada hari-hari berikutnya, seperti bisa ditebak, hubungannya dengan Bung Karno makin dekat. Sang presiden, dalam sebuah perjalanan diam-diam keliling kota pada malam hari, meminta Yurike memanggilnya “Mas”, bukan “Pak”. Kembali beragam perasaan berkecamuk dalam dirinya. Apalagi, dia sendiri punya pacar: Wisnu namanya.

“Sudah terbalikkah bumi ini? Sudah sedemikian kacaukah pendengaranku? Sudah tak berlakukah norma atau etika kepantasan yang menempatkan sikap hormat sebagai keharusan? Mustahil presiden yang usianya di atas ayahku minta dipanggil ‘Mas’ oleh seorang gadis SMA. Bagaiamanapun beraninya aku, lidahku pasti mendadak beku sebelum sepotong kata itu keluar dari tenggorokan.”

Perjalanan diam-diam keliling kota yang diistilahkan Bung Karno sebagai perjalanan incognito itu semakin sering dilakukan. Hingga suatu malam, sebuah kejutan lain yang lebih besar dialami Yurike ketika diajak ke tepi pantai. Dimulai dari pertanyaan Bung Karno soal suami idaman Yurike, obrolan mereka makin menjurus ke soal pribadi. Akhirnya Bung Karno berujar dengan wajah serius: “Apa Adik tidak tahu Mas mencintai Adik?”

“Sepertinya langit runtuh. Kepala semakin berpendar-pendar bagai kejatuhan benda yang berat sekali. Mengingat sikap-sikapnya, pernyataan demikian memang bisa muncul sewaktu-waktu. Tetapi, tak urung, rasa kaget menerkamku,” tulis Yurike mengungkapkan perasaannya ketika itu.

Lalu ia melanjutkan, “Tak pernah aku segemetar seperti saat itu. Raut wajah Ibu, Ayah, saudara, guru-guru di sekolah, kerabat, famili, orang-orang yang ada di sekitar Bung Karno, terakhir kekecewaan Wisnu, bergantian menghiasi pelupuk mata. Semula samar-samar, lalu menjadi jelas. Sejujurnya kuakui, rasa banggaku membukit. Pada detik-detik tersebut, aku merasa bukan anak gadis remaja, tapi sepenuhnya menjadi seorang perempuan yang menerima pernyataan cinta seorang lelaki.”

Dan saat itu pun tiba, ketika Bung Karno menyatakan niatnya memperistri Yurike. “Kurenungi laut angan-angan sepuasnya. Pikiran terbang bebas sebebas-bebasnya, jauh meninggalkan apa yang selama ini tampak menakutkan. Gerak kehidupan baru menuju dunia kenyataan rasanya semakin dekat manakala Bung Karno, berselang tidak lama, menyatakan niatnya memperistriku. Bung Karno ingin tahu jawabanku saat itu juga. Tetapi, bagaimana mungkin? Masalah perkawinan tidak bisa kuputuskan sendiri. Aku minta waktu dengan suara tersendat untuk membicarakannya dengan orangtuaku.”

Peristiwa Menjelang Pernikahan
Pernyataan Bung Karno soal keinginannya memperistri Yurike berulang di istana. Kejadiannya berlangsung beberapa hari setelah upacara pemancangan tiang pertama pembangunan Wisma Nusantara, Rabu 1 April 1964. Setelah acara yang diikutinya selesai, seorang ajudan memintanya menunggu di teras belakang istana karena “Bapak” ingin memberi kenang-kenangan.

Ternyata Presiden Soekarno menghadiahi Yurike sebuah kalung dari koleksinya yang berjajar di sebuah ruangan di istana. Malah lelaki itu sendiri yang memilihkannya untuk sang pujaan hati. Ini boleh saja dibaca sebagai lamaran tidak resmi sang presiden.

Lamaran resminya disampaikan Bung Karno kepada orangtua Yurike, beberapa waktu kemudian. Bung Karno rupanya mengatur hal itu sejak awal, karena beliaulah yang minta makan malam bersama dengan keluarga Yurike. “Selesai makan, tanpa disangka-sangka Bung Karno menyampaikan niatnya untuk memperistriku. Persisnya: Bung Karno melamar! Kubaca keterkejutan yang terpeta di wajah orangtuaku. Kurasakan luluh segenap sendi tulangku.”

Orangtua Yurike jelas sangat terkejut. Ayahnya, tidak bisa lain, menyampaikan rasa terima kasih karena anaknya mendapat tempat istimewa di hati Bung Karno. Dia pun minta waktu untuk memberi jawaban. “Mohon kami diberi waktu untuk berunding, terutama dengan Yurike sendiri. Sebagai orangtuanya, kami tidak bisa membuat keputusan sepihak karena hal demikian akan kurang baik bagi kehidupannya nanti,” demikian sang ayah menanggapi lamaran itu.

Yurike sendiri pada saat itu pun seperti didera kebimbangan berkepanjangan. “Aku hanyalah gadis yang baru dijemput ambang remaja. Di sekolah, aku tidak lebih hanya seorang murid yang masih tidak ingin terlambat datang untuk mengikuti jam pelajaran pertama, masih senang jajan es mambo pada jam istirahat. Lalu tiba-tiba saja seorang lelaki melamarku, dan dia justru seorang presiden yang selalu memiliki daya tarik luar biasa.”

Ujungnya, lamaran Bung Karno itu diterima orangtua Yurike. Ini membawa suasana lain. Sejak Bung Karno tahu lamarannya diterima, napas kegembiraan sering terlontar dari kerjap matanya. “Alhamdulillah,” serunya pertama kali. “Berkuranglah bebanku selama menunggu jawaban itu. Semoga Tuhan selalu memberkahi langkah kita dan memberi kebahagiaan terhadap kita,” ucap Bung Karno.

Seiring dengan itu, perlakuan Bung Karno terhadap Yurike otomatis makin istimewa pula. Bung Karno, misalnya, tidak lagi membahasakan dirinya dengan sebutan “saya”, tetapi “aku”. Beliau juga tidak pernah luput meminta Yurike memanggil dirinya dengan sebutan “Mas” setiap kali perempuan itu keceplosan menyapa “Pak” atau “Bapak”.

Dalam kaitan ini, Yurike juga tak menyembunyikan sedikit pun rasa kagumnya kepada Bung Karno. Ia menilai Bung Besar itu benar-benar seorang kekasih yang arif. Dia tahu persis kapan harus langsung ke titik urusan dan kapan diperlukan diplomasi agar tidak terkesan mendikte atau memaksakan diri.

Selain itu, “Bung Karno pandai menempatkan diriku pada tempat yang semestinya. Bung Karno benar-benar berusaha dengan penuh kesabaran menjadikan aku calon istrinya. Lambat laun, hal itu membawa perubahan amat berarti bagiku. Perasaan kami jadi semakin tidak berjarak. Aku bisa cepat menyesuaikan diri sehingga segala kekakuan yang merintangi sikapku cair dengan sendirinya.”

Tapi, di balik hubungan yang makin dekat itu, Yurike harus menelan pil pahit. Suatu ketika, Bung Karno meminta dia berhenti bersekolah. Dan itu sungguh mengejutkan. Tapi, “Memang ini salahku sendiri. Aku mulai berani mengadu kepadanya seputar bisik-bisik yang berkembang di sekolah yang berkembang menjadi aneka komentar yang disampaikan secara terang-terangan.”

Walhasil, keputusan yang diambil adalah keluar dari sekolah. Pada waktu itu, Yurike masih duduk di kelas II SMA. Ayahnya datang ke sekolah dan secara khusus bicara empat mata dengan kepala sekolah. Alasan keluar tentulah karena Yurike akan menikah dengan Bung Karno. Lelaki itu juga mewanti-wanti agar sang kepala sekolah merahasiakan hal itu.

Yurike sendiri mengungkapkan kegundahannya atas keputusan tersebut. “Sejak itu, aku kehilangan napas duniaku yang amat kukenali selama bertahun-tahun, bahkan sejak kelas I sekolah rakyat. Di satu sisi, aku bisa bebas sebebas-bebasnya dalam arti sudah tidak terbebani kewajiban, tapi kenyataannya malah terbalik: aku justru terpasung di tengah kebebasan atau terbelenggu di tengah pesona kenikmatan yang diberikan orang lain.”

Yurike didera kesepian. Apalagi setelah frekuensi kegiatannya di Barisan Bhinneka Tunggal Ika makin dikurangi. Ia merasa, Bung Karno secara tidak langsung mengatur hal ini. “Kukatakan secara tidak langsung karena Bung Karno tidak pernah menanyakan mengapa aku tidak hadir di antara keanekaragaman pakaian daerah seperti waktu-waktu sebelumnya.”

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Yurike yang sudah jenuh dengan hubungan lewat perjalanan incognito malam-malam hari ke pantai di kawasan Tanjung Priok itu makin mendapat kepastian. Pada Kamis 6 Agustus 1964, yang disebutnya hari termanis itu, Bung Karno resmi menikahinya secara Islam.

Ia pun mencatat saat-saat paling istimewa sepanjang hidupnya tersebut. “Sikapku serba-gugup. Waktu terasa merangkak lambat sekali. Detik demi detik, menit demi menit. Kucoba sekuat mungkin mempertenang diri, tapi sia-sia. Kucoba alihkan pikiran ke masalah lain, tapi percuma. Masih terbayang jelas kunjungan calon penghulu kami kemarin malam ke rumah. Maksudnya tidak lain, untuk melatihku agar upacara benar-benar dapat berlangsung khidmat dan lancar.”

Tepat pukul 10.00, Bung Karno hadir dengan pengawalan yang jauh dari ketat. Tidak terkesan sama sekali bahwa beliau adalah presiden yang bergelar Panglima Tertinggi ABRI sekaligus Pemimpin Besar Revolusi. Pakaiannya sederhana sekali. Kemeja biru muda lengan pendek, celana biru tua, sepatu hitam, dan peci hitam ciri khasnya dirasakan Yurike benar-benar mempercerah penampilan lelaki itu. “Acara yang paling penting dalam sejarah hidupku dimulai,” tulis dia.

Duka Istri Presiden
Ternyata menjadi istri orang nomor satu di suatu negeri tidak selamanya enak. Kesepian yang menerpa dirinya bukannya berkurang. Makin lama, makin terasa menyesakkan. “Hari demi hari bergulir sesuai dengan kehendak sang waktu. Kadang kurasakan hari merangkak lambat manakala kami tidak saling bertemu. Kadangkala bagai sekejap manakala napas kerinduan harus runtuh oleh arus perpisahan yang menerjang,” tulis dia meluapkan perasaan itu.

Selama beberapa waktu, Yurike masih tinggal bersama orangtuanya sampai Bung Karno memberinya sebuah rumah di kawasan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Rumah itu diakui Bung Karno sebagai rumah sitaan kejaksaan milik seorang manipulator yang jadi buronan. Kesepian ternyata kian meradang berada di rumah besar itu. Apalagi, ia tidak bisa bebas keluar-masuk halaman yang dikelilingi pagar tertutup cukup tinggi.

Untuk mengusir rasa sepi, Yurike mengaku kerap melampiaskannya dengan berbagai cara. Salah satunya, menghabiskan waktu bergurau dengan para pengawal. “Dasar masih remaja, aku mengajak para pengawal bermain perang-perangan. Aku dan salah seorang adikku berada dalam satu kelompok, mereka dalam kelompok pihak lawan. Mereka dengan sabar mengikuti kemauanku.” Terkadang, ia juga menghabiskan waktu dengan ikut main gaple bersama para pengawal.

Tapi hal yang paling mengagetkan dirasakannya adalah pada saat-saat Bung Karno terbakar api cemburu. Ini dialami Yurike ketika menjalani perawatan selama tiga pekan di Rumah Sakit Husada karena mengalami hamil di luar kandungan. Ia harus menjalani operasi untuk mengangkat janin itu. Ketika masuk rumah sakit hingga beberapa lama dirawat, kebetulan Bung Karno sedang bermuhibah ke luar negeri.

Ceritanya, selama dirawat, ada seorang dokter yang memberi perhatian khusus dan istimewa kepada Yurike. Dokter muda itu kerap menjenguknya sembari membawa buah atau yang lain. Terakhir, dokter muda bernama Arifin itu membawakan televisi dan majalah asing agar Yurike dapat mengusir rasa jemunya. Majalah asing itu juga cukup kontroversial: melaporkan pertemuan mesra Bung Karno dengan bintang seksi asal Italia, Gina Lolobrigida.

Begitu Bung Karno tahu, ia tampak sangat murka. Lucunya lagi, ulah si dokter itu dihubung-hubungkan dengan antek neokolonialisme (nekolim). Dengan suara lantang menggeledek, dia memerintahkan pengawalnya membuang semua itu. Bahkan, sebagai buntut kecemburuannya, Bung Karno konon menyuruh tim khusus memanggil dokter itu ke istana dan memeriksanya.

“Kesimpulan yang kudengar, sejauh tentang statusku sebagai istri Bung Karno, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia juga tidak terbukti ditunggangi nekolim –sebagaimana kecurigaan Bung Karno. Alhasil, tidak ada alasan untuk menahannya. Kendati demikian, tugasnya secara mendadak dipindahkan ke rumah sakit lain, hari itu juga.”

Saat-saat Terakhir
Langit tidak selamanya cerah. Ada saat-saat gumpalan awan hitam bergulung-gulung, bahkan tanpa celah sinar barang sejengkal. Keadaan bersih juga tak selamanya tergambar di langit karena tiba-tiba bisa keruh, menakutkan, kadangkala diwarnai suara petir yang menggelegar seolah sanggup merobek bumi. Demikian pula cerminan kehidupan Bung Karno.

Suatu hari, Bung Karno datang tanpa memberi kabar lebih dulu. Pada saat itu, Yurike mestinya merasa senang dan menerima sang suami dengan hati berbunga-bunga. Tapi tidak pada hari itu. Kehadiran tersebut merupakan sebuah kabar buruk. Dia datang naik jip yang dikawal beberapa anggota polisi militer. Wajahnya datar, jauh dari ungkapan kegembiraan.

Itulah yang terjadi beberapa waktu setelah Soeharto dilantik menjadi penjabat presiden, persis pada 12 Maret 1967. Negara membutuhkan istana karena penjabat presiden akan melaksanakan tugas kenegaraannya dari tempat itu. Tidak ada jalan lain, Bung Karno harus angkat kaki dari istana yang telah dihuninya selama bertahun-tahun.

Meredupnya kekuasaan Bung Karno ikut mempengaruhi kehidupan yang dijalani Yurike. Tahun 1968 menjadi tahun yang dianggapnya paling memprihatinkan. Kondisi keuangannya kian tidak menentu. Tambahan lagi, kini tidak ada lagi aliran dana kerumahtanggaan presiden untuk menggaji para pembantu yang jumlah totalnya ada 20-an orang.

Efek yang lebih menyesakkan, sudahlah Bung Karno hidup dalam isolasi di Wisma Yaso, Jakarta Selatan, Yurike pun harus angkat kaki dari rumah di Cipinang Cempedak. Berkali-kali pihak kejaksaan meminta dia mengosongkan bekas rumah pengusaha buronan bernama King Gwan itu, berkali-kali pula ia menolak. Ia baru angkat kaki setelah menerima pesan singkat Bung Karno yang ditulis di atas kertas bungkus rokok. “Dik, lebih baik tinggalkan rumah itu, toh bukan milik kita.”

Yang lebih menyesakkan, Bung Karno bahkan menyarankan agar Yurike mengajukan permintaan cerai. Ini mengguratkan suasana haru yang menyelimutinya pada saat itu. “Aku sedih. Betul-betul sedih. Tidak kubayangkan perkataan itu keluar dari bibir Bung Karno,” katanya.

Menurut Bung Karno, situasi politik dalam negeri dan kondisi kesehatannya yang memburuk bisa berefek kurang baik bagi kehidupan Yurike selanjutnya secara lahir-batin. Awalnya ia menolak, dengan menegaskan hanya ingin hidup selamanya dengan Bung Karno. “Saya tidak minta apa-apa lagi. Mata Bung Karno berkaca-kaca. Hatiku pun menangis sejadinya,” tulis dia.

Akhirnya, Yurike memang bercerai dari Bung Karno secara baik-baik. Peristiwa yang sungguh mengharukan karena mereka masih sama-sama saling mencintai. Sebuah perpisahan yang justru terjadi ketika mereka tengah dekat dan sangat rapat.

Tapi, di atas segala kepedihan itu, yang paling menyesakkan tentulah ketika ia mendengar kabar wafatnya “sang penyambung lidah rakyat Indonesia” itu pada 21 Juni 1970. “Kata orang, aku tidak sekadar meratap, tetapi histeris. Aku tidak peduli. Berkali-kali kupanggil namanya hingga suaraku tak terdengar lagi….”
9. Heldy Djafar (1966-1969)
Heldy Jafar yang sebelumnya menjadi anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang menyambut kedatangan Tim Piala Thomas, pada 1964. Heldy pun dinikahi oleh Bung Karno di usia 18 tahun. Pernikahan Bung Karno dengan Heldy ini memang tidak banyak diketahui oleh orang. Perkawina Heldy hanya berlangsung selama dua tahun.

Silahkan tinggal komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • free counters